Memberi Pemahaman yang Benar pada
Anak tentang (Esensi dan Solusi) Rasa Takut
Anak
terlahir telah membawa bakat dan kemampuan luar biasa. Baik yang di dapat dari
faktor genetic (bawaan) maupun hasil dari upaya pembentukan melalui proses
pendidikan yang diikutinya. Secara sinergi ia mendapatkan prosess pendidikan
secara formal maupun non formal. Namun sangat disayangkan jika upaya yang telah
dilakukan untuk mengembangkan potensinya tersebut sirna hanya karena rasa takut
dan kurang percaya diri yang selalu menghantui ketika anak melakukan sesuatu.
Gejala
psikologi seperti ini biasa dikenal dengan istilah Socio Anxiety Disorder
(SAD). Mental block semacam ini tidak bisa kita anggap remeh karena bisa
menjadi gangguan terhadap tumbuh kembang anak. Sehingga potensi anak yang luar
biasa tadi tidak akan berkembang jika tidak cepat ditangani. Sebagai seorang
guru kejadian seperti itu sangat sering terjadi, untuk itu melalui upaya yang
bertahap dan sistimatis dengan tidak mengurangi perhatian serta tupoksi sebagai
guru.
Secara
bijak, semaksimal mungkin kita seharusnya mengupayakan solusi dari masalah
tersebut. Harapannya setelah mendapatkan penanganan siswa bisa mengontrol
emosinya (rasa takut) sebagai emosi yang wajar dan ia dapat mengatasinya. Anak
telah mampu memahami bahwa rasa takut
itu sebagai emosi palsu yang terkesan nyata.
Hal
ini sangat mendesak untuk dilakukan karena anak merupakan individu yang
mempunyai emosi dan prosesnya
sendiri-sendiri. Setiap siswa dapat
belajar dengan baik ketika emosi dan tingkat kesiapan mereka dapat diterima dan
dihargai. Anak pada dasarnya adalah ingin tahu, senang belajar dan memiliki
banyak kualitas yang indah. Mereka kreatif, penuh perhatian dan dapat berfikir
untuk dirinya sendiri. Dalam suatu suasana yang positif mereka tumbuh dan
berkembang. Menyenangi dan mempercayai mereka, membuat mereka dapat menerima
dan mempercayai diri mereka sendiri.
Kecerdasan
bukanlah satu-satunya faktor kesuksesan, tetapi juga hasrat untuk sukses,
komitmen untuk bekerja keras dan keberanian untuk percaya pada kemampuan diri
sendiri menjadi faktor pendukung yang penting dalam meraih kesuksesan. Rasa
takut yang dialami siswa saya tergolong sebagai fobia social. Rasa takut
terhadap situasi sosial dimana ia dihadapkan pada orang-orang yang tidak ia
kenal atau terhadap kemungkinan adanya perhatian dari pihak lain. Mungkin
kegiatan seperti tampil dimuka umum, bagi sebagian orang merupakan hal yang
biasa-biasa saja bahkan perasaan nervous yang dialami pun bisa dikendalikan.
Siswa yang mengalami rasa takut ternyata kurangnya siswa dalam mengembangkan kemampuan
dirinya serta kurangnya rasa percaya diri yang baik dari siswa. Padahal
peercaya diri yang baik adalah kunci sukses.
Sebagai
seorang guru tentu focus perhatiannya pada pelaksanaan pembelajaran untuk
sekuruh siswa di kelas yang menjadi tanggungjawabnya. Sedangkan selain itu
sebagai seorang guru juga harus memasukkan pola pembinaan terhadap anak didik
melalui pembelajaran di kelas secara kelompok, baik kelompok besar maupun
kelompok kecil, dan melakukan terapy dengan mengerjakan tugas dadakan.
Gunanya
untuk melatih mental anak supaya mampu
mengatasi timbulnya rasa takut yang ia rasakan sebagai hal yang wajar dan dapat
ia atasi, sehingga ia dapat melaksanakann tugasnya dengan menggunakan kemampuan
yang ia miliki secara optimal tanpa harus terbebani lagi dengan rasa takut yang
berlebihan.
Kemampuan
siswa mengendalikan emosinya memang tidak bisa permanen, untuk itu sangat perlu
dilakukan pembiasaan baik dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Selama ini
yang menjadi kendala bagi pola pembiasaan dari kemampuan anak mengendalikan
emosinya dalah pengaruh dari lingkungan. Keluarga dan sekolah senantiasa
memantau tumbuh kembang dari anak, namun pengaruh dari lingkungan yang demikian
besar sangat memungkinkan anak kembali menjadi pemalu, penakut serta tidak
percaya diri. Jadi sebagai seorang guru harus hati-hati melakukan treatment
untuk peserta didik.
Memantau
tumbuh kembang anak didik adalah suatu hal yang sangat menarik. Siswa memiliki
berbagai macam pribadi peserta didik dengan sifat, karakter, potensi, latar
belakang sosial dan segala keunikan yang berbeda. Berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Ynag Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis sertabertannggung jawab.
Untuk
membekali peserta didik mencapai tujuan tersebut, merupakan tugas berat bagi seorang pendidik. Karena sebagai peletak
dasar yang kuat bagi kompetensi baik pengetahuan, keterampilan maupun
sikap yang akan dikembangkan pada
jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jika kompetensi yang kita tanamkan baik
maka harapannya dapat memberikan bekal yang baik pula bagi anak di tengah
perkembangan iptek, fenomina sosial, degradasi moral persaingan hidup yang
terjadi di masyarakat saat ini.

Posting Komentar