Unknown
http://ikippgrimadiun.ac.id
Unknown
GAYA HIDUP REMAJA DI ZAMAN SEKARANG

Gaya hidup merupakan gambaran bagi setiap orang yang menggambarkan seberapa besar nilai moralorang tersebut dalam masyarakat di sekitarnya dan bagaimana cara orang tersebut hidup. Sebagian besar remaja zaman sekarang itu menyalahgunakan gaya hidupnya, apalagi remaja-remaja yang hidup di kota metropolitan. Dan bukan hanya orang-orang di kota metropolitan saja yang mengikuti trend mode di zaman sekarang dahkan di perkampungan dan pedesaan pun banyak yang mengikutinya selagi mereka menanggapi hal itu dengan negatif.

Remaja zaman kini itu selalu dikaitkan dengan teknologi. Banyak di sekitar kita wanita yang memakai celana pendek di depan umum yang di ajarkan dalam ajaran islam yaitu harus menutup aurat kecuali telapak tangan dan muka bagi seorang wanita yang beragama islam.

Sebagian besar mereka lebih mengikuti trendmode di masa kini, seperti contohnya berpakain seperti orang luar negeri dan bergaya kebarat-baratan. Yang kita tahu bahwa trend mode yang ada di luar negeri itu menyimpang moral. Sedangkan Negara Indonesia terkenal dengan kesopanan dan budi luhurnya. Kalau kita menanggapi hal ini dengan negatif maka akan berdampak negatif juga untuk penerus kita selanjutnya.

Contoh yang dilakukan orang luar negeri seperti bermabuk-mabukan bahkan banyak remaja terutama kaum adam di zaman sekarang yang sudah minum-minuman keras bahkan narkoba. Mereka beranggapan bahwa jika tidak mengkonsumsi barang tersebut maka ia akan dinilai sebagai remaja yang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Ini salah satu contoh yang salah atau tidak baik, karena kalau mereka mengkonsumsi barang-barang haram tersebut bias merusak kesehatan mereka apalagi mereka dalam tahap perkembangan terutama bagi pengguna narkoba, dampak negative dari penggunaan narkoba adalah dapat mengalami gangguan syaraf pada otak yang tidak berjalan sempurna dapat mengalami gangguan mental.

Untuk itu di zaman yang serba modern ini, mari kita sebagai penerus bangsa Indonesia harus memajukan bangsa terutama dalam kebudayaan karena Negara Indonesia yang terkenal akan kayanya kebudayaan. Hindari hal-hal yang berdampak negatif, boleh kita mengikuti gaya kebarat-baratan asalkan itu mengandung nilai yang positif.
http://ikippgrimadiun.ac.id
Unknown
A.    Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru.
            1.      Mengembangkan kepribadian
a.       Bertaqwa kepada tuhan yang maha esa.
b.      Berperan dalam masyarakat sebagai warga yang berjiwa pancasila.
c.       Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyaratkan bagi jabatan guru.
            2.      Menguasai landasan pendidikan
a.       Mengenal tujuan pendidikan untuk pencapaian tujuan pendidikan nasional.
b.      Mengenal sekolah dalam masyarakat.
c.       Mengenal prinsip-prinsip psikologi yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran
            3.      Menguasai bahan pengajaran
a.       Menguasai bahan pengajaran kurikulum.
b.      Menguasai bahan pengayaan.
            4.      Menyusun program pengajaran
a.       Menetapkan tujuan pengajaran.
b.      Memilih dan menetapkan bahan pengajaran.
c.       Memilih dan mengembangkan strategi pengajaran.
d.      Memilih dan mengembangkan media pengajaran yang sesuai.
e.       Memilih dan memanfaatkan sumber belajar.
            5.      Melaksanakan program pengajaran
a.       Menciptakan iklim belajar mengajar yang sehat.
b.      Mengatur ruang belajar.
c.       Mengelola interaksi belajar mengajar.
            6.      Menilai hasil dan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan
a.       Menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran.
b.      Menilai proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
            7.      Menyelenggarakan program bimbingan
a.       Membimbing siswa yang mengalami kesulitan belajar.
b.      Membimbing siswa yang berkelainan dan berbakat khusus.
c.       Membimbing siswa untuk menghargai pekerjaan di masyarakat.
            8.      Menyelenggarakan administrasi sekolah
a.       Mengenal pengadministrasian kegiatan madrasah.
b.      Melaksanakan kegiatan administrasi madrasah.
            9.      Menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan sejawat dan masyarakat
a.       Berinteraksi dengan sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional.
b.      Berinteraksi dengan masyarakat untuk penuaian misi pendidikan.
          10.  Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran
a.       Mengkaji konsep dasar penelitian ilmiah.
b.      Melaksanakan penelitian sederhana.
B.     Harapan pada peserta didik setelah lulus dari sekolah
Menjadi peserta didik yang tetap menjunjung karakter yang baik yang telah diajarkan di sekolah selama ini,tetap menjadi siswa yang berprestasi, diterima di sekolah yang terbaik sehingga juga akan membawa nama baik sekolah sebelumnya, menjadi orang yang berguna ke depannya dan masih mengingat jasa-jasa dari para gurunya. Serta mampu bersaing dengan dunia luar seiring dengan globalisasi.
C.    Program Sekolah untuk membentuk karakter peserta didik
            1.      Program Harian
a.       Sholat Dhuha
b.      Jam pelajaran dimulai pukul 07.00 WIB.
c.       Gerbang sekolah ditutup 15 menit setelah jam pelajaran dimulai.
d.      Siswa memakai seragam lengkap.
e.       Sebelum masuk dalam kelas siswa berbaris di depan kelas dan memberi salam kepada guru.
f.       Sebelum materi diajarkan siswa berdoa dan membaca juz’ama bersama.
g.      Guru mengajak siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran.
h.      Saat jam istirahat siswa dilarang untuk keluar dari area sekolah.
i.        Melaksanakan shalat dhuhur berjamaah.
            2.      Program Mingguan
a.  Setiap hari jumat siswa shalat jumat berjamaah dan setelah itu melakukan istigasah bersama.
b.   Setiap hari jumat siswa diajak beramal dengan menyisihkan uang sakunya untuk orang yang membutuhkan.
c.       Setiap hari Senin wajib mengikuti kegiatan upacara bendera.
d.      Melaksanakan progam menabung setiap hari sabtu
e.       Latihan Pramuka setiap hari sabtu.
f.       Jum’at bersih (kerja bakti)
g.      Senam pagi bersama setiap
h.      Sholat Jum’at
i.        Ekstrakurikuler lainnya
            3.      Program Bulanan
a.       Konseling
b.      Bakti sosial
c.       Diadakan lomba kebersihan kelas
d.      Diadakan lomba rajin membaca
            4.      Program Semester
a.       Pada akhir semester mengadakan UTS dan UAS sebagai evaluasi hasil belajar.
b.      Mengadakan pertemuan dengan wali murid.
c.       Mengadakan progam menanam pohon.
           5.      Program Tahunan
a.       Study tour
b.      Halal bihalal
c.       Qurban
d.      Zakat fitrah
e.       Pondok romadhan
f.       Persami
g.      Porseni
h.      Perpisahan
i.        Peringatan hari besar Nasional
           6.      Program Jangka Panjang
a.       Mengadakan reuni 10 tahun sekali
b.      Meregenerasi para guru
c.       Merenovasi gedung sekolah yang sudah tidak layak ditempati
Unknown


UN dan Nilai Kejujuran
Salah satu masalah klasik yang dihadapi pelaksana UN adalah kebocoran soal dan kunci jawaban yang dilakukan berbagai oknum dengan berbagai cara. Kebocoran soal bisa diduga dilakukan oleh dua kelompok, yaitu kelompok internal atau orang dalam serta kelompok eksternal yang biasanya dilakukan oleh jalur bimbingan belajar atau alumni. Akar masalah dari fenomena ini adalah hilangnya nilai kejujuran dalam penyelenggaraan UN khususnya dan pendidikan secara umum.
Dalam hal ini kita kembali mempertanyakan prinsip kejujuran yang ditanamkan dalam proses pendidikan sejak usia dini hingga usia remaja. Terdegradasinya semangat kejujuran dalam pelaksanaa UN membuat kita prihatin dan miris. Apakah sebegitu rusaknya moralitas pendidikan dengan menhilangkan nilai luhur kejujuran? Menegasi kejujuran dalam pendidikan membuat kita berfikir bahwa masyarakat Indonesia memang sudah terbiasa melakukan jalan yang menerabas nilai dan moral masyarakat.
Inilah yang menjadi mentalitas bangsa kita, mentalitas menerobos dan jalan pintas, tanpa perlu melakukan usaha dan kerja keras. Pendidikan seharusnya mendorong mereka untuk belajar tapi jangan diajak untuk melakukan sesuatu yang tidak jujur. Bisa jadi nilai akhirnya tidak maksimal dan bahkan siswa tersebut tidak lulus UN. Namun itu hasil dari sebuah proses yang jujur, jika ada murid yang tidak lulus memang harus tidak diluluskan.
Tugas pendidikan yang membuat dia bisa lebih giat belajar untuk mencapai kelulusan di tahun berikutnya. Kejujuran dalam konteks ini menjadi pesan moral yang ingin disampaikan kepada pemangku kepentingan pendidikan di manapun. Dalam konteks sosial dan wawancara transparansi public, kita perlu memperkuat komitmen dalam penyelenggaraan UN dengan jujur dan bersih.
Praktik-praktik curang dalam pelaksanaan UN harus kita angkat ke public sebagai bagian dari partisipati public dalam pelaksanaan pendidikan public yang transparan. Hal ini menggambarkan kegelisahan dan kritik kita terhadap pelaksanaan UN yang masih bermasalah dengan prinsip-prinsip kejujuran. Kita harus sadar bahwa praktik-praktik kecurangan dalam UN adalah realitas yang tak terbantahkan, meskipun pihak kemendikbud sering kali membantahnya.
Kuantitas atau kualitas? Kita harus mengingatkan seluruh actor penyelenggara UN dan umumnya praktik pendidikan lebih berorientasi pada proses dan kualitas, bukan mengagungkan hasil dan kuantitas. Penjelasan ini sebangun dengan pemikiran bahwa pendidikan jangan terjebak dalam jeratan pragmatism kuantitatif yang miskin makna filosofisnya.
Dalam study pendidikan, paradigm kualitas pendidikan sudah lama dikembangkan khususnya oleh negara-negara maju sperti Amerika Serikat atau Eropa. Kita sadar bahwa selama ini pendidikan Indonesia sering kali berada dalam mainstream kualitas dan abai dengan kualitas. Fakta yang paling mudah adalah penyelenggara UN.
Bisa dipastikan jika sebagian besar kepala daerah menargetkan 100% kelulusan UN, maka target ini diberikan kepada kepala disdik sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam penyelenggara UN di daerah. Sebagian besar praktik kecurangan dilakukan dengan membocorkan soal UN untuk dikerjakan oleh guru mata pelajaran dan kunci jawaban disebarkan (HP).
Di lapangan praktik ini sudah menjadi rahasia umum dan sering disebut dengan adanya tim sukses UN. Kepala sekolah bertanggungjawab dan terbebani dengan target kelulusan 100% yang dicanangkan kepala disdik dan kepala daerah. Secara otoritas, posisi kepala sekolah tentu tidak berdaya menghadapi tekanan dan doninasi kepala disdik karena terkait dengan kepentingan jabatan dan alokasi anggaran pendidikan di sekolah.
Diberbagai daerah kita sering menjumpai berbagai kasus kecurangan yang dilakukan secara sistematis oleh berbagai pihak. Berbagai kecurangan tersebut ada yang dilaporkan kepada pihak kepolisian, meskipun ada juga yang ditutup-tutupi oleh pihak sekolah.
Guru memang selalu berada dalam posisi yang lemah dan tak berdaya di hadapan otoritas kekuasaan pendidikan. Kejujuran dibayar dengan tindakan pemecatan. Sesuatu yang sangat memprihatinkan dalam pendidikan Indonesia. Jangan dulu berbicara peruubahan kurikulum yang canggih demi mempersiapkan generasi masa depan yang unggul. Tidak usah kita kehabisan energy untuk berteriak tentang pendidikan karakter dengan ragam proyek hingga triliunan rupiah. Semua terasa percuma tatkala kita bai dengan prinsip kejujuran dalam UN.
UN sendiri memang masi menjadi masalah karena penolakan dari berbagai kalangan untuk menghapuskan pelaksanaan UN. Selagi UN selalu dilakukan dengan berbagai kecurangan, maka kita berada dalam suasana yang sangat memprihatinkan. Bikan malah menyelesaikan masalah, melainkan menambah masalah baru dengan praktik kecurangan tersebut.
Kejujuran adalah prinsip moral yang menempati seluruh gerak pendidikan. Pendidikan akan kering tanpa dibangun nilai-nilai kejujuran. Bisa dibayangkan masa depan bangsa ini tanpa membangun kejujuran dalam pendidikan.
Menanamkan kejujuran bukan sekadar persoalan. Lebih dari itu, ini menyangkut bagaimana bangsa ini membangun filosofi pendidikan sekaligus memproyeksikan pendidikan jangka panjang untuk kepentingan generasi penerus. Tak ada pilihan lagi untuk memulai kejujuran itu pada anak-anak bangsa sekaligus upaya merawat masa depan pendidikan bangsa ini secara permanen.
Unknown


Memberi Pemahaman yang Benar pada Anak tentang (Esensi dan Solusi) Rasa Takut
Anak terlahir telah membawa bakat dan kemampuan luar biasa. Baik yang di dapat dari faktor genetic (bawaan) maupun hasil dari upaya pembentukan melalui proses pendidikan yang diikutinya. Secara sinergi ia mendapatkan prosess pendidikan secara formal maupun non formal. Namun sangat disayangkan jika upaya yang telah dilakukan untuk mengembangkan potensinya tersebut sirna hanya karena rasa takut dan kurang percaya diri yang selalu menghantui ketika anak melakukan sesuatu.
Gejala psikologi seperti ini biasa dikenal dengan istilah Socio Anxiety Disorder (SAD). Mental block semacam ini tidak bisa kita anggap remeh karena bisa menjadi gangguan terhadap tumbuh kembang anak. Sehingga potensi anak yang luar biasa tadi tidak akan berkembang jika tidak cepat ditangani. Sebagai seorang guru kejadian seperti itu sangat sering terjadi, untuk itu melalui upaya yang bertahap dan sistimatis dengan tidak mengurangi perhatian serta tupoksi sebagai guru.
Secara bijak, semaksimal mungkin kita seharusnya mengupayakan solusi dari masalah tersebut. Harapannya setelah mendapatkan penanganan siswa bisa mengontrol emosinya (rasa takut) sebagai emosi yang wajar dan ia dapat mengatasinya. Anak telah mampu memahami bahwa rasa  takut itu sebagai emosi palsu yang terkesan nyata.
Hal ini sangat mendesak untuk dilakukan karena anak merupakan individu yang mempunyai emosi  dan prosesnya sendiri-sendiri. Setiap siswa  dapat belajar dengan baik ketika emosi dan tingkat kesiapan mereka dapat diterima dan dihargai. Anak pada dasarnya adalah ingin tahu, senang belajar dan memiliki banyak kualitas yang indah. Mereka kreatif, penuh perhatian dan dapat berfikir untuk dirinya sendiri. Dalam suatu suasana yang positif mereka tumbuh dan berkembang. Menyenangi dan mempercayai mereka, membuat mereka dapat menerima dan mempercayai diri mereka sendiri.
Kecerdasan bukanlah satu-satunya faktor kesuksesan, tetapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras dan keberanian untuk percaya pada kemampuan diri sendiri menjadi faktor pendukung yang penting dalam meraih kesuksesan. Rasa takut yang dialami siswa saya tergolong sebagai fobia social. Rasa takut terhadap situasi sosial dimana ia dihadapkan pada orang-orang yang tidak ia kenal atau terhadap kemungkinan adanya perhatian dari pihak lain. Mungkin kegiatan seperti tampil dimuka umum, bagi sebagian orang merupakan hal yang biasa-biasa saja bahkan perasaan nervous yang dialami pun bisa dikendalikan. Siswa yang mengalami rasa takut ternyata kurangnya siswa dalam mengembangkan kemampuan dirinya serta kurangnya rasa percaya diri yang baik dari siswa. Padahal peercaya diri yang baik adalah kunci sukses.
Sebagai seorang guru tentu focus perhatiannya pada pelaksanaan pembelajaran untuk sekuruh siswa di kelas yang menjadi tanggungjawabnya. Sedangkan selain itu sebagai seorang guru juga harus memasukkan pola pembinaan terhadap anak didik melalui pembelajaran di kelas secara kelompok, baik kelompok besar maupun kelompok kecil, dan melakukan terapy dengan mengerjakan tugas dadakan.
Gunanya untuk melatih mental anak supaya  mampu mengatasi timbulnya rasa takut yang ia rasakan sebagai hal yang wajar dan dapat ia atasi, sehingga ia dapat melaksanakann tugasnya dengan menggunakan kemampuan yang ia miliki secara optimal tanpa harus terbebani lagi dengan rasa takut yang berlebihan.
Kemampuan siswa mengendalikan emosinya memang tidak bisa permanen, untuk itu sangat perlu dilakukan pembiasaan baik dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Selama ini yang menjadi kendala bagi pola pembiasaan dari kemampuan anak mengendalikan emosinya dalah pengaruh dari lingkungan. Keluarga dan sekolah senantiasa memantau tumbuh kembang dari anak, namun pengaruh dari lingkungan yang demikian besar sangat memungkinkan anak kembali menjadi pemalu, penakut serta tidak percaya diri. Jadi sebagai seorang guru harus hati-hati melakukan treatment untuk peserta didik.
Memantau tumbuh kembang anak didik adalah suatu hal yang sangat menarik. Siswa memiliki berbagai macam pribadi peserta didik dengan sifat, karakter, potensi, latar belakang sosial dan segala keunikan yang berbeda. Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Ynag Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis sertabertannggung jawab.
Untuk membekali peserta didik mencapai tujuan tersebut, merupakan tugas berat  bagi seorang pendidik. Karena sebagai peletak dasar yang kuat bagi kompetensi baik pengetahuan, keterampilan maupun sikap  yang akan dikembangkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jika kompetensi yang kita tanamkan baik maka harapannya dapat memberikan bekal yang baik pula bagi anak di tengah perkembangan iptek, fenomina sosial, degradasi moral persaingan hidup yang terjadi di masyarakat saat ini.