Unknown
GAYA HIDUP REMAJA DI ZAMAN SEKARANG
Gaya hidup merupakan gambaran bagi setiap orang yang menggambarkan seberapa besar nilai moralorang tersebut dalam masyarakat di sekitarnya dan bagaimana cara orang tersebut hidup. Sebagian besar remaja zaman sekarang itu menyalahgunakan gaya hidupnya, apalagi remaja-remaja yang hidup di kota metropolitan. Dan bukan hanya orang-orang di kota metropolitan saja yang mengikuti trend mode di zaman sekarang dahkan di perkampungan dan pedesaan pun banyak yang mengikutinya selagi mereka menanggapi hal itu dengan negatif.
Remaja zaman kini itu selalu dikaitkan dengan teknologi. Banyak di sekitar kita wanita yang memakai celana pendek di depan umum yang di ajarkan dalam ajaran islam yaitu harus menutup aurat kecuali telapak tangan dan muka bagi seorang wanita yang beragama islam.
Sebagian besar mereka lebih mengikuti trendmode di masa kini, seperti contohnya berpakain seperti orang luar negeri dan bergaya kebarat-baratan. Yang kita tahu bahwa trend mode yang ada di luar negeri itu menyimpang moral. Sedangkan Negara Indonesia terkenal dengan kesopanan dan budi luhurnya. Kalau kita menanggapi hal ini dengan negatif maka akan berdampak negatif juga untuk penerus kita selanjutnya.
Contoh yang dilakukan orang luar negeri seperti bermabuk-mabukan bahkan banyak remaja terutama kaum adam di zaman sekarang yang sudah minum-minuman keras bahkan narkoba. Mereka beranggapan bahwa jika tidak mengkonsumsi barang tersebut maka ia akan dinilai sebagai remaja yang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Ini salah satu contoh yang salah atau tidak baik, karena kalau mereka mengkonsumsi barang-barang haram tersebut bias merusak kesehatan mereka apalagi mereka dalam tahap perkembangan terutama bagi pengguna narkoba, dampak negative dari penggunaan narkoba adalah dapat mengalami gangguan syaraf pada otak yang tidak berjalan sempurna dapat mengalami gangguan mental.
Untuk itu di zaman yang serba modern ini, mari kita sebagai penerus bangsa Indonesia harus memajukan bangsa terutama dalam kebudayaan karena Negara Indonesia yang terkenal akan kayanya kebudayaan. Hindari hal-hal yang berdampak negatif, boleh kita mengikuti gaya kebarat-baratan asalkan itu mengandung nilai yang positif.
http://ikippgrimadiun.ac.id
Gaya hidup merupakan gambaran bagi setiap orang yang menggambarkan seberapa besar nilai moralorang tersebut dalam masyarakat di sekitarnya dan bagaimana cara orang tersebut hidup. Sebagian besar remaja zaman sekarang itu menyalahgunakan gaya hidupnya, apalagi remaja-remaja yang hidup di kota metropolitan. Dan bukan hanya orang-orang di kota metropolitan saja yang mengikuti trend mode di zaman sekarang dahkan di perkampungan dan pedesaan pun banyak yang mengikutinya selagi mereka menanggapi hal itu dengan negatif.
Remaja zaman kini itu selalu dikaitkan dengan teknologi. Banyak di sekitar kita wanita yang memakai celana pendek di depan umum yang di ajarkan dalam ajaran islam yaitu harus menutup aurat kecuali telapak tangan dan muka bagi seorang wanita yang beragama islam.
Sebagian besar mereka lebih mengikuti trendmode di masa kini, seperti contohnya berpakain seperti orang luar negeri dan bergaya kebarat-baratan. Yang kita tahu bahwa trend mode yang ada di luar negeri itu menyimpang moral. Sedangkan Negara Indonesia terkenal dengan kesopanan dan budi luhurnya. Kalau kita menanggapi hal ini dengan negatif maka akan berdampak negatif juga untuk penerus kita selanjutnya.
Contoh yang dilakukan orang luar negeri seperti bermabuk-mabukan bahkan banyak remaja terutama kaum adam di zaman sekarang yang sudah minum-minuman keras bahkan narkoba. Mereka beranggapan bahwa jika tidak mengkonsumsi barang tersebut maka ia akan dinilai sebagai remaja yang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Ini salah satu contoh yang salah atau tidak baik, karena kalau mereka mengkonsumsi barang-barang haram tersebut bias merusak kesehatan mereka apalagi mereka dalam tahap perkembangan terutama bagi pengguna narkoba, dampak negative dari penggunaan narkoba adalah dapat mengalami gangguan syaraf pada otak yang tidak berjalan sempurna dapat mengalami gangguan mental.
Untuk itu di zaman yang serba modern ini, mari kita sebagai penerus bangsa Indonesia harus memajukan bangsa terutama dalam kebudayaan karena Negara Indonesia yang terkenal akan kayanya kebudayaan. Hindari hal-hal yang berdampak negatif, boleh kita mengikuti gaya kebarat-baratan asalkan itu mengandung nilai yang positif.
http://ikippgrimadiun.ac.id
Unknown
A.
Kemampuan
yang harus dimiliki oleh guru.
1. Mengembangkan
kepribadian
a. Bertaqwa kepada tuhan yang maha esa.
b. Berperan dalam masyarakat sebagai
warga yang berjiwa pancasila.
c. Mengembangkan sifat-sifat terpuji
yang dipersyaratkan bagi jabatan guru.
2. Menguasai landasan
pendidikan
a. Mengenal tujuan pendidikan untuk
pencapaian tujuan pendidikan nasional.
b. Mengenal sekolah dalam masyarakat.
c. Mengenal prinsip-prinsip psikologi
yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran
3.
Menguasai bahan pengajaran
a. Menguasai bahan pengajaran
kurikulum.
b. Menguasai bahan pengayaan.
4.
Menyusun program pengajaran
a. Menetapkan tujuan pengajaran.
b. Memilih dan menetapkan bahan
pengajaran.
c. Memilih dan mengembangkan strategi
pengajaran.
d. Memilih dan mengembangkan media
pengajaran yang sesuai.
e. Memilih dan memanfaatkan sumber
belajar.
5.
Melaksanakan program pengajaran
a. Menciptakan iklim belajar mengajar
yang sehat.
b. Mengatur ruang belajar.
c. Mengelola interaksi belajar
mengajar.
6.
Menilai hasil dan proses belajar mengajar yang telah
dilaksanakan
a. Menilai prestasi murid untuk
kepentingan pengajaran.
b. Menilai proses belajar mengajar yang
telah dilaksanakan.
7.
Menyelenggarakan program bimbingan
a. Membimbing siswa yang mengalami
kesulitan belajar.
b. Membimbing siswa yang berkelainan
dan berbakat khusus.
c. Membimbing siswa untuk menghargai
pekerjaan di masyarakat.
8.
Menyelenggarakan administrasi sekolah
a. Mengenal pengadministrasian kegiatan
madrasah.
b. Melaksanakan kegiatan administrasi
madrasah.
9.
Menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan
sejawat dan masyarakat
a. Berinteraksi dengan sejawat untuk
meningkatkan kemampuan profesional.
b. Berinteraksi dengan masyarakat untuk
penuaian misi pendidikan.
10.
Menyelenggarakan penelitian sederhana untuk
keperluan pengajaran
a. Mengkaji konsep dasar penelitian
ilmiah.
b.
Melaksanakan
penelitian sederhana.
B.
Harapan
pada peserta didik setelah lulus dari sekolah
Menjadi peserta didik yang tetap
menjunjung karakter yang baik yang telah diajarkan di sekolah selama ini,tetap
menjadi siswa yang berprestasi, diterima di sekolah yang terbaik sehingga juga
akan membawa nama baik sekolah sebelumnya, menjadi orang yang berguna ke
depannya dan masih mengingat jasa-jasa dari para gurunya. Serta mampu bersaing
dengan dunia luar seiring dengan globalisasi.
C.
Program
Sekolah untuk membentuk karakter peserta didik
1. Program
Harian
a. Sholat
Dhuha
b. Jam
pelajaran dimulai pukul 07.00 WIB.
c. Gerbang
sekolah ditutup 15 menit setelah jam pelajaran dimulai.
d. Siswa
memakai seragam lengkap.
e. Sebelum
masuk dalam kelas siswa berbaris di depan kelas dan memberi salam kepada guru.
f. Sebelum
materi diajarkan siswa berdoa dan membaca juz’ama bersama.
g. Guru
mengajak siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran.
h. Saat
jam istirahat siswa dilarang untuk keluar dari area sekolah.
i.
Melaksanakan shalat dhuhur berjamaah.
2. Program
Mingguan
a. Setiap
hari jumat siswa shalat jumat berjamaah dan setelah itu melakukan istigasah
bersama.
b. Setiap
hari jumat siswa diajak beramal dengan menyisihkan uang sakunya untuk orang
yang membutuhkan.
c. Setiap
hari Senin wajib mengikuti kegiatan upacara bendera.
d. Melaksanakan
progam menabung setiap hari sabtu
e. Latihan
Pramuka setiap hari sabtu.
f. Jum’at
bersih (kerja bakti)
g. Senam
pagi bersama setiap
h. Sholat
Jum’at
i.
Ekstrakurikuler lainnya
3. Program
Bulanan
a. Konseling
b. Bakti
sosial
c. Diadakan
lomba kebersihan kelas
d. Diadakan
lomba rajin membaca
4. Program
Semester
a. Pada
akhir semester mengadakan UTS dan UAS sebagai evaluasi hasil belajar.
b. Mengadakan
pertemuan dengan wali murid.
c. Mengadakan
progam menanam pohon.
5. Program
Tahunan
a. Study
tour
b. Halal
bihalal
c. Qurban
d. Zakat
fitrah
e. Pondok
romadhan
f. Persami
g. Porseni
h. Perpisahan
i.
Peringatan hari besar Nasional
6. Program
Jangka Panjang
a. Mengadakan
reuni 10 tahun sekali
b. Meregenerasi
para guru
c. Merenovasi
gedung sekolah yang sudah tidak layak ditempati
Unknown
UN dan Nilai Kejujuran
Salah
satu masalah klasik yang dihadapi pelaksana UN adalah kebocoran soal dan kunci
jawaban yang dilakukan berbagai oknum dengan berbagai cara. Kebocoran soal bisa
diduga dilakukan oleh dua kelompok, yaitu kelompok internal atau orang dalam
serta kelompok eksternal yang biasanya dilakukan oleh jalur bimbingan belajar
atau alumni. Akar masalah dari fenomena ini adalah hilangnya nilai kejujuran
dalam penyelenggaraan UN khususnya dan pendidikan secara umum.
Dalam
hal ini kita kembali mempertanyakan prinsip kejujuran yang ditanamkan dalam
proses pendidikan sejak usia dini hingga usia remaja. Terdegradasinya semangat
kejujuran dalam pelaksanaa UN membuat kita prihatin dan miris. Apakah sebegitu
rusaknya moralitas pendidikan dengan menhilangkan nilai luhur kejujuran?
Menegasi kejujuran dalam pendidikan membuat kita berfikir bahwa masyarakat Indonesia
memang sudah terbiasa melakukan jalan yang menerabas nilai dan moral
masyarakat.
Inilah
yang menjadi mentalitas bangsa kita, mentalitas menerobos dan jalan pintas,
tanpa perlu melakukan usaha dan kerja keras. Pendidikan seharusnya mendorong
mereka untuk belajar tapi jangan diajak untuk melakukan sesuatu yang tidak
jujur. Bisa jadi nilai akhirnya tidak maksimal dan bahkan siswa tersebut tidak
lulus UN. Namun itu hasil dari sebuah proses yang jujur, jika ada murid yang
tidak lulus memang harus tidak diluluskan.
Tugas
pendidikan yang membuat dia bisa lebih giat belajar untuk mencapai kelulusan di
tahun berikutnya. Kejujuran dalam konteks ini menjadi pesan moral yang ingin
disampaikan kepada pemangku kepentingan pendidikan di manapun. Dalam konteks
sosial dan wawancara transparansi public, kita perlu memperkuat komitmen dalam
penyelenggaraan UN dengan jujur dan bersih.
Praktik-praktik
curang dalam pelaksanaan UN harus kita angkat ke public sebagai bagian dari
partisipati public dalam pelaksanaan pendidikan public yang transparan. Hal ini
menggambarkan kegelisahan dan kritik kita terhadap pelaksanaan UN yang masih
bermasalah dengan prinsip-prinsip kejujuran. Kita harus sadar bahwa
praktik-praktik kecurangan dalam UN adalah realitas yang tak terbantahkan, meskipun
pihak kemendikbud sering kali membantahnya.
Kuantitas
atau kualitas? Kita harus mengingatkan seluruh actor penyelenggara UN dan
umumnya praktik pendidikan lebih berorientasi pada proses dan kualitas, bukan
mengagungkan hasil dan kuantitas. Penjelasan ini sebangun dengan pemikiran
bahwa pendidikan jangan terjebak dalam jeratan pragmatism kuantitatif yang
miskin makna filosofisnya.
Dalam
study pendidikan, paradigm kualitas pendidikan sudah lama dikembangkan
khususnya oleh negara-negara maju sperti Amerika Serikat atau Eropa. Kita sadar
bahwa selama ini pendidikan Indonesia sering kali berada dalam mainstream
kualitas dan abai dengan kualitas. Fakta yang paling mudah adalah penyelenggara
UN.
Bisa
dipastikan jika sebagian besar kepala daerah menargetkan 100% kelulusan UN,
maka target ini diberikan kepada kepala disdik sebagai pihak yang bertanggung
jawab dalam penyelenggara UN di daerah. Sebagian besar praktik kecurangan
dilakukan dengan membocorkan soal UN untuk dikerjakan oleh guru mata pelajaran
dan kunci jawaban disebarkan (HP).
Di
lapangan praktik ini sudah menjadi rahasia umum dan sering disebut dengan
adanya tim sukses UN. Kepala sekolah bertanggungjawab dan terbebani dengan
target kelulusan 100% yang dicanangkan kepala disdik dan kepala daerah. Secara
otoritas, posisi kepala sekolah tentu tidak berdaya menghadapi tekanan dan
doninasi kepala disdik karena terkait dengan kepentingan jabatan dan alokasi
anggaran pendidikan di sekolah.
Diberbagai
daerah kita sering menjumpai berbagai kasus kecurangan yang dilakukan secara
sistematis oleh berbagai pihak. Berbagai kecurangan tersebut ada yang
dilaporkan kepada pihak kepolisian, meskipun ada juga yang ditutup-tutupi oleh
pihak sekolah.
Guru
memang selalu berada dalam posisi yang lemah dan tak berdaya di hadapan
otoritas kekuasaan pendidikan. Kejujuran dibayar dengan tindakan pemecatan.
Sesuatu yang sangat memprihatinkan dalam pendidikan Indonesia. Jangan dulu
berbicara peruubahan kurikulum yang canggih demi mempersiapkan generasi masa
depan yang unggul. Tidak usah kita kehabisan energy untuk berteriak tentang
pendidikan karakter dengan ragam proyek hingga triliunan rupiah. Semua terasa percuma
tatkala kita bai dengan prinsip kejujuran dalam UN.
UN
sendiri memang masi menjadi masalah karena penolakan dari berbagai kalangan
untuk menghapuskan pelaksanaan UN. Selagi UN selalu dilakukan dengan berbagai
kecurangan, maka kita berada dalam suasana yang sangat memprihatinkan. Bikan
malah menyelesaikan masalah, melainkan menambah masalah baru dengan praktik
kecurangan tersebut.
Kejujuran
adalah prinsip moral yang menempati seluruh gerak pendidikan. Pendidikan akan
kering tanpa dibangun nilai-nilai kejujuran. Bisa dibayangkan masa depan bangsa
ini tanpa membangun kejujuran dalam pendidikan.
Menanamkan
kejujuran bukan sekadar persoalan. Lebih dari itu, ini menyangkut bagaimana
bangsa ini membangun filosofi pendidikan sekaligus memproyeksikan pendidikan
jangka panjang untuk kepentingan generasi penerus. Tak ada pilihan lagi untuk
memulai kejujuran itu pada anak-anak bangsa sekaligus upaya merawat masa depan
pendidikan bangsa ini secara permanen.
Memberi Pemahaman yang Benar pada
Anak tentang (Esensi dan Solusi) Rasa Takut
Anak
terlahir telah membawa bakat dan kemampuan luar biasa. Baik yang di dapat dari
faktor genetic (bawaan) maupun hasil dari upaya pembentukan melalui proses
pendidikan yang diikutinya. Secara sinergi ia mendapatkan prosess pendidikan
secara formal maupun non formal. Namun sangat disayangkan jika upaya yang telah
dilakukan untuk mengembangkan potensinya tersebut sirna hanya karena rasa takut
dan kurang percaya diri yang selalu menghantui ketika anak melakukan sesuatu.
Gejala
psikologi seperti ini biasa dikenal dengan istilah Socio Anxiety Disorder
(SAD). Mental block semacam ini tidak bisa kita anggap remeh karena bisa
menjadi gangguan terhadap tumbuh kembang anak. Sehingga potensi anak yang luar
biasa tadi tidak akan berkembang jika tidak cepat ditangani. Sebagai seorang
guru kejadian seperti itu sangat sering terjadi, untuk itu melalui upaya yang
bertahap dan sistimatis dengan tidak mengurangi perhatian serta tupoksi sebagai
guru.
Secara
bijak, semaksimal mungkin kita seharusnya mengupayakan solusi dari masalah
tersebut. Harapannya setelah mendapatkan penanganan siswa bisa mengontrol
emosinya (rasa takut) sebagai emosi yang wajar dan ia dapat mengatasinya. Anak
telah mampu memahami bahwa rasa takut
itu sebagai emosi palsu yang terkesan nyata.
Hal
ini sangat mendesak untuk dilakukan karena anak merupakan individu yang
mempunyai emosi dan prosesnya
sendiri-sendiri. Setiap siswa dapat
belajar dengan baik ketika emosi dan tingkat kesiapan mereka dapat diterima dan
dihargai. Anak pada dasarnya adalah ingin tahu, senang belajar dan memiliki
banyak kualitas yang indah. Mereka kreatif, penuh perhatian dan dapat berfikir
untuk dirinya sendiri. Dalam suatu suasana yang positif mereka tumbuh dan
berkembang. Menyenangi dan mempercayai mereka, membuat mereka dapat menerima
dan mempercayai diri mereka sendiri.
Kecerdasan
bukanlah satu-satunya faktor kesuksesan, tetapi juga hasrat untuk sukses,
komitmen untuk bekerja keras dan keberanian untuk percaya pada kemampuan diri
sendiri menjadi faktor pendukung yang penting dalam meraih kesuksesan. Rasa
takut yang dialami siswa saya tergolong sebagai fobia social. Rasa takut
terhadap situasi sosial dimana ia dihadapkan pada orang-orang yang tidak ia
kenal atau terhadap kemungkinan adanya perhatian dari pihak lain. Mungkin
kegiatan seperti tampil dimuka umum, bagi sebagian orang merupakan hal yang
biasa-biasa saja bahkan perasaan nervous yang dialami pun bisa dikendalikan.
Siswa yang mengalami rasa takut ternyata kurangnya siswa dalam mengembangkan kemampuan
dirinya serta kurangnya rasa percaya diri yang baik dari siswa. Padahal
peercaya diri yang baik adalah kunci sukses.
Sebagai
seorang guru tentu focus perhatiannya pada pelaksanaan pembelajaran untuk
sekuruh siswa di kelas yang menjadi tanggungjawabnya. Sedangkan selain itu
sebagai seorang guru juga harus memasukkan pola pembinaan terhadap anak didik
melalui pembelajaran di kelas secara kelompok, baik kelompok besar maupun
kelompok kecil, dan melakukan terapy dengan mengerjakan tugas dadakan.
Gunanya
untuk melatih mental anak supaya mampu
mengatasi timbulnya rasa takut yang ia rasakan sebagai hal yang wajar dan dapat
ia atasi, sehingga ia dapat melaksanakann tugasnya dengan menggunakan kemampuan
yang ia miliki secara optimal tanpa harus terbebani lagi dengan rasa takut yang
berlebihan.
Kemampuan
siswa mengendalikan emosinya memang tidak bisa permanen, untuk itu sangat perlu
dilakukan pembiasaan baik dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Selama ini
yang menjadi kendala bagi pola pembiasaan dari kemampuan anak mengendalikan
emosinya dalah pengaruh dari lingkungan. Keluarga dan sekolah senantiasa
memantau tumbuh kembang dari anak, namun pengaruh dari lingkungan yang demikian
besar sangat memungkinkan anak kembali menjadi pemalu, penakut serta tidak
percaya diri. Jadi sebagai seorang guru harus hati-hati melakukan treatment
untuk peserta didik.
Memantau
tumbuh kembang anak didik adalah suatu hal yang sangat menarik. Siswa memiliki
berbagai macam pribadi peserta didik dengan sifat, karakter, potensi, latar
belakang sosial dan segala keunikan yang berbeda. Berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Ynag Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis sertabertannggung jawab.
Untuk
membekali peserta didik mencapai tujuan tersebut, merupakan tugas berat bagi seorang pendidik. Karena sebagai peletak
dasar yang kuat bagi kompetensi baik pengetahuan, keterampilan maupun
sikap yang akan dikembangkan pada
jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jika kompetensi yang kita tanamkan baik
maka harapannya dapat memberikan bekal yang baik pula bagi anak di tengah
perkembangan iptek, fenomina sosial, degradasi moral persaingan hidup yang
terjadi di masyarakat saat ini.

